JST-NEWS Tiongkok menunjukkan perubahan strategi besar dalam pengelolaan cadangan devisanya. Data terbaru memperlihatkan bahwa negeri tersebut secara signifikan mengurangi kepemilikan surat utang Amerika Serikat (US Treasuries) sembari meningkatkan cadangan emasnya hingga mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah.(6/2)
Cadangan emas Tiongkok kini tercatat mencapai 74,1 juta troy ounce, rekor tertinggi yang pernah dimiliki negara tersebut. Di saat yang sama, kepemilikan China atas US Treasuries turun tajam menjadi US$682,6 miliar, level terendah dalam 18 tahun terakhir.

Jika dibandingkan dengan puncaknya pada tahun 2013, Tiongkok telah memangkas kepemilikan surat utang AS lebih dari US$600 miliar. Dalam periode yang sama, cadangan emas negara itu tercatat berlipat ganda.
Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi diversifikasi besar-besaran, yakni mengalihkan ketergantungan dari aset berbasis dolar AS ke aset riil (hard assets) seperti emas. Pergeseran tersebut mencerminkan upaya Tiongkok untuk memperkuat ketahanan keuangan nasional di tengah dinamika geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global.
Para analis menilai tren ini bukanlah peristiwa sesaat, melainkan bagian dari arah kebijakan jangka panjang yang kemungkinan akan terus berlanjut. Jika pola ini berlanjut, permintaan emas global berpotensi meningkat, yang pada akhirnya dapat mendorong harga emas naik lebih tinggi di pasar internasional.
Perubahan portofolio cadangan devisa oleh salah satu ekonomi terbesar dunia ini menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar, investor, dan pengambil kebijakan di berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk mencermati dinamika pergeseran aset global dari instrumen berbasis dolar menuju aset lindung nilai seperti emas.
Fenomena ini menegaskan bahwa dalam situasi ketidakpastian global, negara-negara besar pun semakin mengandalkan aset yang memiliki nilai intrinsik dan relatif stabil terhadap gejolak mata uang.
Redaksi | 6 Februari 2026












Leave a Reply